-->
fLWeAsNtTDyJ8LBwFzvbLJXLfZMxZVmQ7RFnAnMp
Prinsip Komunikasi Dalam Cerita Inspiratif - Tulisan lepas ini semoga bisa memperkaya persepsi kita Tentang Komunikasi, terlebih bisa menjadi Inspirasi bagi kita semua untuk bisa "menjual aset diri kita" yang tak pernah kita gali sebelumnya. Sebagian besar pakar komunikasi menyebutkan bahwa apabila seseorang mau sukses maka tingkatkan kemampuan kita dalam berkomunikasi. 
Gambar Ilustrasi Google
Inti Komunikasi yang akan saya ceritakan disini adalah mengubah respon orang yang tadinya antipati terhadap diri kita, berubah menjadi simpati. Minimal mereka yang kita ajak berkomunikasi bisa paham dengan apa yang kita sampaikan, maksimalnya mereka bisa mengikuti "paham" kita. Pintar Ilmu Komunikasi erat kaitannya dengan kemapuan daya jual, proyek apa yang kita tawarkan menjadi ketertarikan mereka.

Hanya sebuah tulisan lepas yang saya anggap ringan untuk dicerna karena cerita yang akan saya sampaikan cukup mengedukasi kita. Sebagaimana kita ketahui bahwa sarana transportasi yang paling aman dari kemacetan adalah Kereta Api. Jakarta - Bogor ataupun arah sebaliknya. Saya biasa menggunakan sarana transportasi ini ketika mau atau pulang bekerja. Ini cerita lama yang saya gali kembali untuk tujuan "bisa memperkaya diri kita tentang komunikasi".

Bogor adalah kota tempat kerja saya dulu, belanja kebutuhan spare part elektronika yang terbilang cukup komplit adalah Glodok di Jakarta. Seminggu sekali perjalanan Bogor - Jakarta biasa saya tempuh, atau kalau di tempat kerja lagi sepi hal ini saya lakukan cukup sebulan sekali. Satu saat karena kelelahan putar-putar belanja kebutuhan spare part tsb. di pasar Glodok saya berniat pulang naik kereta api dengan harapan bisa melepaskan penat dengan tidur sejenak sepanjang perjalan pulang.

Namun apa yang saya dapat, bukan "beristirahat" malah mendapati kejengkelan yang teramat sangat karena istirahatku terganggu oleh suara ribut anak-anak yang lagi bermain. Bermain balon-balonna hingga tembak-tembakan air. Dua anak kecil ini tak mau diam meski sudah saya "pelototi", malahan yang terjadi semakin menjadi-jadi. Lari-larian hingga kakiku yang terjulur sempat terinjaknya. Bapaknya anak-anak tsb. hanya senyum simpul tak pernah menegur anaknya yang menurut saya sudah "keterlaluan".

Dengan ekspresi ketidaksukaan, saya beranjak dari tempat dudukku berniat menegur si bapak anak-anak tsb. Dengan suara keras, dan emosi memuncak saya bilang;"Pak kenapa bapak hanya diam saja, sementara anak-anak bapak mengganggu 'istirahat' saya, ini kan tempat umum bukan arena bermain anak-anak".

Namun diluar dugaan, ketika saya mengkomunikasikan apa yang telah terjadi terhadap diri saya. Sang bapak menjawab dengan lirih;" Kang, sebelumnya bapak minta maaf apabila anak-anak bapak mengganggu istirahat Akang. Tapi sebelumnya bapak ingin memberitahu bahwa 5 hari yang lalu ibunya anak-anak ini meninggal dunia. Dan kami semua masih dalam kondisi berduka, dimana anak-anak setiap hari menangis sedih. Anak-anak ini kepingin sekali bertemu dengan ibunya. Saya tidak tega melihat kesedihan mereka diwaktu berduka ini. Dan satu-satunya yang bapak tahu untuk membuat mereka gembira dan bisa tertawa adalah naik kereta api"

Lep....hati saya terenyuh setelaah mendengar penuturan si bapak ini. Emosi yang tadi sempat memuncak menjadi reda, bahasa yang saya ucapkan pun mendadak ikut lirih seperti bahasanya si bapak ini. Penuturan si bapak dengan komunikasi yang santun sehingga mengubah respon saya menjadi iba terhadap anak-anak tadi. Saya berpikir memang sebaiknya istirahat saya ini dilanjutkan nanti setelah tiba dirumah. Saya pun tidak marah lagi dengan tindakan anak-anak ini, justru sekarang saya malah ikut serta bermain bersamanya.
Artikel Terkait
Endang Aep Saefulah
Radio and Electronics it's my life

Related Posts

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui. Baca lebih lanjut tentang Comment Policy
Buka Komentar

Post a comment